Tunjuk diri sendiri
Hari minggu kemarin adalah hari paling tidak nyaman sedunia.
Bukan karena suhu panas yg membuat naik pitam melainkan pergi ke pernikahan sahabat dengan temen temen yg tadinya saya pikir dan yakini sepenuh hati adalah sahabat terbaik. Jangan salah sangka, mereka sangat super duper baik dan menyenangkan tapi arah dan tujuan saya yang sepertinya menjauh dari visi dan misi mereka,tapi mereka tetep baik buat saya.
Ada satu fase yang saya alami bahwa ternyata teman kita ternyata bukan yang kita butuhkan lagi, tanpa perlu membuat drama tiba - tiba hal itu bisa jadi babak drama yang begitu menegangkan dan akhirnya merenggangkan.
Coba bayangkan ada sebuah lingkaran berisi lebih dari 3 orang,
Kita umpamakan bahwa saya sedang duduk dengan si A dan si C tanpa disadari ketika ada moment tidak bersama saya mengunjingkan A dengan si C lalu ketika kami bertiga kami menggunjingkan si D. Dan begitu terus sampai pada titk kamulah atau saya yang tersingkir perlahan.
Di titik tersingkir ataupu. Tersungkur harusnya sih ga perlu sedih, kecewa mungkin tapi sedih harusnya ga perlu. Karena di situlah ternyata terlihat kita adalah refleksi apa yang kita lakukan selama ini.
Ketidaknyamnan yang saya alami bukan karena saya digunjingkan,pasti saya yakin saya sudah sering jadi mangsa gunjingan melainkan saya tidak bisa melihat apa yang baik dari lingkaran ini. Saya coba menelaah dan selalu menemukan benturan.
Lalu saya berpikir? Apa saya yang tidak pernah peka terhadap sekitar?
Mungkin iya.
Mungkin sayalah yang menjadi orang lain bagi mereka,saya bukan yg disingkirkan tapi saya yg mundur teratur.
Buat saya mundur itu bukann kalah,tapi semata karena didepan sayaakan banyak hal bagus yang akan terbuka.
Betapapun saya menyayangi mereka tapi sayang sama diri sendiri jauh lebih menenangkan
Bukan karena suhu panas yg membuat naik pitam melainkan pergi ke pernikahan sahabat dengan temen temen yg tadinya saya pikir dan yakini sepenuh hati adalah sahabat terbaik. Jangan salah sangka, mereka sangat super duper baik dan menyenangkan tapi arah dan tujuan saya yang sepertinya menjauh dari visi dan misi mereka,tapi mereka tetep baik buat saya.
Ada satu fase yang saya alami bahwa ternyata teman kita ternyata bukan yang kita butuhkan lagi, tanpa perlu membuat drama tiba - tiba hal itu bisa jadi babak drama yang begitu menegangkan dan akhirnya merenggangkan.
Coba bayangkan ada sebuah lingkaran berisi lebih dari 3 orang,
Kita umpamakan bahwa saya sedang duduk dengan si A dan si C tanpa disadari ketika ada moment tidak bersama saya mengunjingkan A dengan si C lalu ketika kami bertiga kami menggunjingkan si D. Dan begitu terus sampai pada titk kamulah atau saya yang tersingkir perlahan.
Di titik tersingkir ataupu. Tersungkur harusnya sih ga perlu sedih, kecewa mungkin tapi sedih harusnya ga perlu. Karena di situlah ternyata terlihat kita adalah refleksi apa yang kita lakukan selama ini.
Ketidaknyamnan yang saya alami bukan karena saya digunjingkan,pasti saya yakin saya sudah sering jadi mangsa gunjingan melainkan saya tidak bisa melihat apa yang baik dari lingkaran ini. Saya coba menelaah dan selalu menemukan benturan.
Lalu saya berpikir? Apa saya yang tidak pernah peka terhadap sekitar?
Mungkin iya.
Mungkin sayalah yang menjadi orang lain bagi mereka,saya bukan yg disingkirkan tapi saya yg mundur teratur.
Buat saya mundur itu bukann kalah,tapi semata karena didepan sayaakan banyak hal bagus yang akan terbuka.
Betapapun saya menyayangi mereka tapi sayang sama diri sendiri jauh lebih menenangkan
Comments
Post a Comment