Posts

Showing posts from May, 2012

Kamu di jejaring sosialku. Tertangkap basah.

Manfaat jejaring sosial itu salah satunya menemukan ketidakjujuran yang tertulis secara sadar. terungkap fakta,tanpa bersusah payah menjelaskan.  Aku tidak marah ataupun murka walaupun kamu memanfaatkan aku untuk keegoisan kamu. Aku juga tidak marah karena bukan aku yang terpilih, hanya kecewa bahwa saya menolong orang yang salah.Menyanyangi orang yang salah. Kesalahan terbesar adalah terlalu baik. Saya tidak akam menghukum ataupun mempermalukan kamu, karma itu akan datang dengan sendirinya. Mungkin suatu saat kamu akan sadar, bahwa kamu telah menyiakan kebaikan. Betapapun kamu ingin bosannya,ingin melepaskannnya,tapi dia memilihmu.  Melpaskan kamu adalah alasan yang disampaikan padaku, memberikan kebahagiaan kepada orang lain karena nantinya aku akan lebih bahagia. Klise. Tapi tak sepenuhnya jujur. Tak apa, jejaring sosial sudah memberitahuku. Kamu posting aja.  Jejaring sosial itu memberitahukan aku bahwa cinta kamu cuma buat dia. Aku cuma seseorang yang kebetulan ada ...

Tanpa status, tapi hati bersama terus

Perhatian kamu selalu tepat waktu Sayang kamu selalu tidak berlebih Kadarnya pas Yang salah hanya mencampuri pertemanan dengan hasrat terpendam Tidak ada dari kita berani bertaruh apakah kita akan mencinta selamanya atau selalu terombang ambing tapi tetap bersama Kedewasaan yang kita nilai tak cukup untuk menilai hubungan kita sendiri Kita tidak pernah jujur bahwa kita tidak pernah saling sayang sepenuhnya Kita juga tidak pernah jujur bilang saling membutuhkan Tapi kamu selalu tepat waktu Tepat disaat dibutuhkan,diinginkan Sejauh kita berjalan selalu ada kamu dan aku Tapi tak pernah bersama berhenti disatu tujuan. -opp

Sang diva tamak hati

Ada sebuah luka di dasar hati Bekasnya terlalu besar untuk disembuhkan Lukanya terlalu dalam untuk dilihat. Melihatnya, merasakannya, Semakin membuat sakit Kebaikannya telah hilang dalam hitungan detik Hati Nuraninya segelap malam menelan Bintangnya redup dalam kekuasaan Kini rasa sakit itu kembali terasa , ternyata kemuakan ini berawal dari ketamakan tak bertepi. Angkuh. Tamak. Tak berperasaan Itulah dia Sang diva Yang sedang berada diatas angin diterpa harta bertubi Sebagai jaminannya dia memberikan hati nurani demi raga dan pundi penuh Dia pernah miskin Dia bertekad untuk kaya Dan dia berhasil Berhasil menguburkan jasad sang penolong Berhasil menangisi dan meratapi sang matahari yang terbunuh perlahan oleh bulan Kelak kau jatuh ke dalam kubangan harta tak bertepi Dan menguburkan dirimu sendiri. -opp