My soulful journey part 1
Jika bukan karena teman baik saya,mungkin tidak akan terjadi perjalanan 'bermakna' ini. Saya harus berterimakasih kepada sahabat saya ini karena telah mengatur pertemuan saya, mba asih, dan bu ning. 2 wanita yang saya sebutkan adalah seorang ' bermakna' untuk pertanyaan pertanyaan saya yang penuh keraguan dan memberikan saya asupan 'aspirasi' yang saya butuhkan.
Jika bukan karena teman baik saya, tidak ada perjalanan ini dan awal baru hidup saya yang lebih bermakna dimulai dari sini. Di Bali.
Pada tulisan awal saya bertajuk "what the healer said" , saya bercerita tentang perjalanan teman baik saya dan istrinya untuk sebuah tujuan. Dia bercerita bahwa dia dan istrinya menemui seorang prana, dia adlah pemberi energi positif atau lebih dikenal dengan terapi aura. Singkat cerita, teman baik saya ini menginspirasi saya untuk mengalami perjalanan yang sama. Dia bilang" lo harus coba, sob! Karena ini baik buat lo, dan buat gue ini adalah hal aneh yang paling masuk akal sehat gue tanpa ada pake ilmu macem - macem, ilmunya cuma satu. Pasrah dan selalu berpikir positif, tapi ga segampang yang dikira."
Beberapa minggu dari cerita ini, saya menceritakan kepada salah seorang sahabat saya dan dia cukup antusias menerima ajakan ini dan dia tidak melihat keinginan saya ini adalah sesuatu yang gila.
25 mei, hari yang kami tentukan untuk pergi. Saya sudah mendapatkan semua informasi tentang pertemuan saya nanti. Deg - degan tapi juga penasaran. Tujuan kami:Bali.
Safe landing. A great sign to meet the healer. First stop, a good breakfast. Kami menuju satu tempat untuk sarapan sambil mengkhayal sperti apa rupa si healer dan akan bagaimana nanti. Saya sudah set meeting jam 13.00,local time. Tiba2, sang asisten mengundurkan 30 menit dari waktu pertemuan, lalu mengundurkan lagi 1 jam. Saya semakin deg degan, too many expectation.
Tanpa membuang waktu saya menuju tempat yang telah dijanjikan. Kejadian lucu terjadi karena pertemuan ini di rumah sakit bersalin. Langsung saya kaget dan memburu teman saya dengan serbuan pertanyaan apakah ini rekomendasi yang benar? Mana tepi sawah yang indah untuk bermeditasi, mana pura yang cantik agar suasana healing ini semakin syahdu. Rumah sakit bersalin? Really? Do i look like need labor?? Teman saya sedikit meragu apalagi dengan tatapan supir yg mengantar mulai membentuk serangkai kecurigaan.
Rumah sakit bersalin ini kecil sekali sedikit menjebak petunjuk arahnya
lalu kami memasuki halaman rumah sakit yang lebih terlihat seperti hostel atau guest house daripada sebuah rumah sakit. Kami menuju resepionis lalu resepsionis itu nampaknya sudah tau siapa yang akan saya temui.
"silahkan ke lantai atas mba, ruangannya di ujung vip 3"
Wih...ruangan vip terbayang ruangan seperti lounge room. Big sofa, plasma tv, mini bar...bukan....ini hanya ruangan seperti ruang UKS sekolah. Meja kayu, bangku kayu,tempat tidur satu satunya yang mewah hanya stereo set.
We waited..patiently... Judgement thought...
Tiba - tiba sosok itu datang. Sosok seorang ibu. Seorang ibu paruh baya dengan di ikuti dua anak dibelakangnya. Seorang iabu rumah tangga pada umumnya. Inikah sosok yang akan mengobati, membersihkan hati saya? Mana pakaian bali lengkap dengan melati dan sajen atau persembahan sesutu?. Ini dia sosok yang hadir didepan saya; seorang ibu. Seorang ibu ning yang dalam pertemuan 45 menit mampu membuat saya nangis,tenang,dan memandang dunia menjadi indah.
Session pun dimulai.
Bersambung......
-opp
Jika bukan karena teman baik saya, tidak ada perjalanan ini dan awal baru hidup saya yang lebih bermakna dimulai dari sini. Di Bali.
Pada tulisan awal saya bertajuk "what the healer said" , saya bercerita tentang perjalanan teman baik saya dan istrinya untuk sebuah tujuan. Dia bercerita bahwa dia dan istrinya menemui seorang prana, dia adlah pemberi energi positif atau lebih dikenal dengan terapi aura. Singkat cerita, teman baik saya ini menginspirasi saya untuk mengalami perjalanan yang sama. Dia bilang" lo harus coba, sob! Karena ini baik buat lo, dan buat gue ini adalah hal aneh yang paling masuk akal sehat gue tanpa ada pake ilmu macem - macem, ilmunya cuma satu. Pasrah dan selalu berpikir positif, tapi ga segampang yang dikira."
Beberapa minggu dari cerita ini, saya menceritakan kepada salah seorang sahabat saya dan dia cukup antusias menerima ajakan ini dan dia tidak melihat keinginan saya ini adalah sesuatu yang gila.
25 mei, hari yang kami tentukan untuk pergi. Saya sudah mendapatkan semua informasi tentang pertemuan saya nanti. Deg - degan tapi juga penasaran. Tujuan kami:Bali.
Safe landing. A great sign to meet the healer. First stop, a good breakfast. Kami menuju satu tempat untuk sarapan sambil mengkhayal sperti apa rupa si healer dan akan bagaimana nanti. Saya sudah set meeting jam 13.00,local time. Tiba2, sang asisten mengundurkan 30 menit dari waktu pertemuan, lalu mengundurkan lagi 1 jam. Saya semakin deg degan, too many expectation.
Tanpa membuang waktu saya menuju tempat yang telah dijanjikan. Kejadian lucu terjadi karena pertemuan ini di rumah sakit bersalin. Langsung saya kaget dan memburu teman saya dengan serbuan pertanyaan apakah ini rekomendasi yang benar? Mana tepi sawah yang indah untuk bermeditasi, mana pura yang cantik agar suasana healing ini semakin syahdu. Rumah sakit bersalin? Really? Do i look like need labor?? Teman saya sedikit meragu apalagi dengan tatapan supir yg mengantar mulai membentuk serangkai kecurigaan.
Rumah sakit bersalin ini kecil sekali sedikit menjebak petunjuk arahnya
lalu kami memasuki halaman rumah sakit yang lebih terlihat seperti hostel atau guest house daripada sebuah rumah sakit. Kami menuju resepionis lalu resepsionis itu nampaknya sudah tau siapa yang akan saya temui.
"silahkan ke lantai atas mba, ruangannya di ujung vip 3"
Wih...ruangan vip terbayang ruangan seperti lounge room. Big sofa, plasma tv, mini bar...bukan....ini hanya ruangan seperti ruang UKS sekolah. Meja kayu, bangku kayu,tempat tidur satu satunya yang mewah hanya stereo set.
We waited..patiently... Judgement thought...
Tiba - tiba sosok itu datang. Sosok seorang ibu. Seorang ibu paruh baya dengan di ikuti dua anak dibelakangnya. Seorang iabu rumah tangga pada umumnya. Inikah sosok yang akan mengobati, membersihkan hati saya? Mana pakaian bali lengkap dengan melati dan sajen atau persembahan sesutu?. Ini dia sosok yang hadir didepan saya; seorang ibu. Seorang ibu ning yang dalam pertemuan 45 menit mampu membuat saya nangis,tenang,dan memandang dunia menjadi indah.
Session pun dimulai.
Bersambung......
-opp
Comments
Post a Comment